BERTETANGGA

Kasus 1
Suatu ketika Mbak Er sekeluarga pergi ke Jawa, lalu mendatangi tetangganya,
berpesan: “Pak, saya mau ke jawa 3 hari, nitip rumah Pak ya”
Rumah aman, karena dijaga tetangga 24 jam, tanpa mengeluarkan biaya.
Kasus 2
Dua tahun yang lalu, Pak Her wafat dirumah sakit. Ketika sampai dirumah,
semua kebutuhan telah disiapkan para tetangga, tanpa kita minta. Mulai dari tenda,
sampai dengan proses pemakaman. Sanak famili hanya sekedar menemani.
Dari kasus-kasus tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa “pertolongan pertama” berasal dari
tetangga kita, sedangkan sanak famili posisinya jauh dari rumah kita. Tetangga kita sendiri selalu
siap, setiap saat menolong keluarga kita, tanpa diminta.
Pertolongan dari tetangga ini, sebenarnya tidak gratis, musti dibayar dengan perbuatan yang sama.
Terjadilah budaya saling tolong menolong sesama tetangga. Budaya ini bagian dari perintah Allah.
Setiap perintah Allah, akan diminta pertanggung-jawabannya di Mauqiful Hisab.
Al-Hadits: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
memuliakan tetangganya” (HR Bukhari dan Muslim)
TETANGGA ITU TEMAN DALAM SUKA DAN DUKA.
Belum lama ini Ibu Su berangkat ke Kalimantan. Disana disediakan segala macam kebutuhan,
juga ditawarkan modal untuk kegiatan dagang. Coba tuh, begitu enaknya, apa yang kurang?
Kita semua jadi bertanya-tanya, kenapa Ibu tidak mau tinggal di Kalimantan? Padahal serba ada.
Ternyata, ada sesuatu yang tidak ada di Kalimantan, tapi ada di Bekasi, yaitu Tetangga.
Adakalanya posisi tetangga itu, jauh lebih penting dari berbagai fasilitas apapun.
Tetangga itu adalah teman dekat dalam suka dan duka, tempat curhat dan tempat bertanya.
TETANGGA ITU MENDATANGKAN REZEKI
Ibu Tik punya kegiatan mengajar senam, hasilnya lumayan, bisa meringankan biaya keluarga.
“Tik, darimana sih, kok bisa mengajar senam?” Itu tuh, hasil dari ngobrol dengan tetangga.
Tidak sedikit orang yang bisa memperoleh bidang usaha atau pekerjaan, karena ditolong tetangga.
Kita sering ditolong tetangga, tapi kita tidak mau menolong tetangga, gimana akibatnya?
Suatu saat nanti, pertolongan dari tetangga ini terhenti. Maka dicabutlah kenikmatan bertetangga.
diganti oleh Allah dengan penderitaan bertetangga, misalkan:
Setiap bertemu dengan tetangga, timbul perasaan tidak enak. Siksaan batin ini terjadi tiap hari.
Kalau kita abaikan hidup bertetangga, bisa menderita kerugian harta dan kehilangan pertolongan.
Di Mauqiful Hisab, lebih berat lagi kerugiannya, harus menerima penderitaan selama seribu tahun.
Bagaimana dengan budaya kaum elite yang tidak akrab dengan tetangga?
Hukum sunnatullah tidak membedakan umat, semua sama.
Al-Hadits: “Berbuat baiklah dalam bertetangga, dengan demikian engkau dapat disebut
seorang Mukmin”
Ternyata, saling tolong menolong sesama tetangga itu, merupakan salah satu syarat
untuk bisa masuk golongan Mukmin.
Oleh karena itu di Perhisaban nanti, ada pertanyaan masalah cara bertetangga, untuk
mengetahui, sejauhmana kadar keimanan kita.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: