MUROQOBAH (Merasakan Kesertaan Allah).

Allah Maha Melihat.
Al-Hadist :
” Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya,
dan jika memang kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kamu”.

Al-Qur’an :
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (sholat) dan meihat pula perubahan
gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud” (Asy-Syura 218-219).

Allah Maha Mengetahui Isi Hati.
Al-Qur’an :
” Sungguh ALLAH mengetahui yang ghaib dilangit dan dibumi.
Sungguh Dia Maha mengetahui segala isi hati ” (QS Fatir 38).

Ada 99 sifat Allah, demikian banyak, sulit dihafalkan, kita coba mengupas dua
sifat Allah, yaitu Maha Melihat dan Maha Mengetahui isi hati. Dua sifat ini,
membuat diri kita “tidak berkutik”. Seluruh tubuh kita dilihat Allah, setiap
gerakan tubuh dilihat Allah, bagian dalam diri kita, yaitu Isi hati, juga
diketahui Allah,….lalu apa yang bisa kita sembunyikan dihadapan Allah?

Al-Qur’an :
” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
(QS Qaaf 16).

Kita akhirnya sadar, bahwa Allah itu selalu menyertai kita kemanapun kita bergerak.
Bagaimana kita bisa membuktikannya?
Kita mendirikan sholat, disebut menghadap Allah, dalam berdialog dengan Allah ini,
cukup dengan ucapan yang berbisik, dapat dikatakan tidak terdengar dengan siapapun
juga. Ucapan cukup dengan berbisik saja, karena Allah sangat dekat sekali, lebih
dekat dari urat  leher. Berarti kita sendiri yang membuktikannya bahwa Allah dekat
sekali.

Demikian juga sewwaktu kita melaksanakan puasa, tidak berani makan apapun juga
selama puasa karena “Allah melihat” seluruh tubuh kita. Selama puasa tidak berani
berdusta, karena “Allah Mendengar” semua ucapan kita. Kita sendiri yang membuktikan
bahwa Allah itu melihat seluruh gerakan tubuh kita dan mendengar semua ucapan kita.

Setelah selesai sholat, apakah Allah tetap berada dekat dengan kita? ini yang
perlu kita renungkan dalam hati. Dalam kenyataannya, hilang sudah perasaan bahwa
Allah ada didekat kita. Kenapa anda berprasangka buruk? ” Allah tidak tahu kok,
Allah jauh dari ku, tuh diatas langit. Kenapa anda marah-marah? ” Kan Allah tidak
mendengar, Allah jauh dariku, tuh diatas langit.

Karena kita suka ikut-ikutan kalimat “Tergantung yang diatas”, padahal Allah
sedekat urat leher. Akibatnya kita ikut-ikutan menempatkan Allah jauh diatas langit
lupa, sewaktu sholat gimana?
Kalau kita sudah menganggap Allah itu jauh, maka otomatis kita bertindak semau gue,
ngomong juga semau gue, hati juga semau gue, ikutin saja nafsu yang ada didalam
hati, toh tidak ada Allah. Jadi hanya sewaktu sholat saja, kita menempatkan Allah
dekat dengan diri kita.

Kalau saja kita menempatkan Allah dekat sekali dengan diri kita, maka keuntungannya
sedemikian banyak. Allah Maha Pelindung, berarti kemanapun kita jalan, tetap
dilindungi Allah. Allah Maha Penyayang, berarti kemanapun juga kita bergerak, tidak
akan berkurang suatu apa, segala kebutuhan kita bisa terpenuhi, apa yang kita
kehendaki, bisa dikabulkan Allah. Allah Maha Penolong, Selalu siap menolong kita,
pada saat membutuhkan pertolongan.

Kita tidak sadar, bahwa semua harta yang ada dirumah karena Maha Pemurahnya Allah.
Kita tidak sadar, bahwa selama ini kita pergi kemana saja, selalu aman, karena dilindungi Allah.
Kita tidak sadar, bahwa seluruh keluarga sehat-sehat saja, karena Allah Maha Pelindung.
Kita tidak sadar, bahwa segala kenikmatan yang kita rasakan ini adalah Pemberian Allah.

Allah bertanya pada kita semua ” Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Allah bertanya sebanyak 31 kali dalam surat Ar-Rahman, agar kita bisa menjawabnya
Kenikmatan yang kita terima dari Allah, sungguh tidak bisa kita hitung, karena
tak terhingga. Kalau kita membaca atau mendengar alunan bacaan surat Ar-Rahman, kita
bisa menangis sendu, betapa tidak, kita ditegur keras, demikian banyak kenikmatan
yang diterima, tapi tidak bersyukur.

Allah Maha Menghukum. Dalam surat Ar-Rahman, Allah mengancam kita dengan firman-Nya :
” Kepada kamu akan dikirim nyala api dan cairan tembaga panas, sehingga kamu tidak
dapat menyelamatkan diri”. Sanksi hukum ini diberikan kepada mereka yang tidka mau
bersyukur. Diakhir surat Ar-Rahman, Allah menjanjikan dua surga, bagi yang bertaqwa,
yang taat pada petunjuk Allah, Surga didunia dan surga diakhirat. Keselamatan
didunia dan keselamatan diakhirat.

Siapakan yang bisa menyelamatkan diri dari nyala api dan guyuran cairan tembaga panas?
Suami kita? Orang tua kita? tidak ada seorangpun yang bisa menolong kita.Nobody help me.
Kalau saja kita yakin bahwa Allah melihat semua gerak tubuh kita, tentunya kita akan
menjaga tangan dan kaki, jangan sampai melanggar hukum. Kalau saja kita yakin bahwa
Allah Maha Mendengar, tentunya kita akan selalu menjaga ucapan kita, jangan sampai tercela.

Hati kita tidak yakin bahwa Allah Maha Kaya, hati kita tidak yakin bahwa kekayaan
yang ada dirumah kita adalah pemberian Allah. Kita tidak yakin bahwa kita aman-aman
saja karena selalu mendapat perlindungan dari Allah. Kita tidak yakin bahwa kita sehat
karena pertolongan Allah.

Bila pola pikir seperti ini berlanjut terus sampai hari kematian kita, maka kita
akan mendapat azab, disiram cairan tembaga panas, sepanjang kita berada dalam akhirat.
Karena pondasi akidah kita sangat rapuh, menyepelekan kesertaan Allah didalam diri
kita.

Kebalikannya, kalau dalam hati sanubari kita , menyadari sepenuh hati, bahwa semua
kenikmatan yang kita terima selama ini, adalah semata-mata karena Maha Pemurahnya
Allah, berarti hati kita taat pada Allah, dengan kata lain, taqwa pada Allah Yang
Maha Kuasa atas segalanya. Allah menjanjikan kita dua surga, yaitu surga didunia
dan surga diakhirat.

Surga dunia merupakan miniatur surga diakhirat. Kita selalu mengejar surga dunia,
yang ukurannya kecil. Seharusnya kita juga mengejar surga akhirat, yang ukurannya
lebih besar. Dua-duanya musti kita kejar sampai dapat, hanya melalui taqwa pada
Allah SWT.

Nah.itulah tujuan disampaikannya ilmu ibadah hati, untuk membuka hati kita meraih taqwa
Ibadah hati adalah cara kita untuk memperkuatakidah kita, yang selama ini kita abaikan,
karena kita hanya melaksanakan ibadah jasmani saja, tanpa diiringi hati yang seharusnya
juga ibadah.

langkah pertama proses ketaqwaan adalah kita selalu mengingat perjanjian kita dengan
Allah, perjanjian untuk taat pada petunjuk Allah, taat melaksanakan perintah Allah.
langkah kedua adalah, menanamkan dalam hati kita, bahwasannya Allah selalu beserta
kita, dengan sendirinya ada perasaan hadirnya pengawasan dan juga penolong, disamping
kita.

” BUKAKAN HATI, YAKINKAN HATIMU, BAHWA ALLAH SANGAT DEKAT SEKALI “.

penulis : Mang karna.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: