Dasar Menuntut Ilmu

MENYEKOLAHKAN ANAK
Mas Fulan menyekolahkan anaknya sampai SMA, setelah itu anaknya dituntut untuk bisa masuk
perguruan tinggi. Kalau kita hitung biaya pendidikan anak, ternyata tidak sedikit, bisa ratusan juta.
Disamping itu, ada orang lain yang mengabaikan pendidikan anak, lebih mengutamakan pola hidup
konsumtip, misalkan dengan membeli mobil, rumah, sawah, dll.

Mas Fulan memilih menyekolahkan anak, padahal dananya bisa untuk membeli mobil.
Kalau kita buka Al-Qur’an, tujuan Mas Fulan menyekolahkan anak adalah atas Perintah Allah.
Korban tenaga dan harta, untuk jihad fisabilillah. Memelihara titipan Allah.                            (anak titipan Allah)
Makanya Mas Fulan, lebih mementingkan pendidikan anak, daripada kebutuhan kenikmatan hidup.

MENYEKOLAHKAN DIRI SENDIRI
Si A bisa memperoleh titel SH, MM, Se-sibuk-sibuknya bekerja, masih bisa menuntut ilmu.
Si B bisa memperoleh pendidikan khusus. Se-sibuk-sibuknya bekerja, masih ada waktu belajar.
Si C bisa memperoleh S1, walau pekerjaannya demikian sibuk, masih bisa mengatur waktu.
Hasil dari pengorbanan mengatur waktu ini, toh akhirnya untuk kebahagiaan mereka juga.
Mengejar titel, mengejar ilmu, untuk meningkatkan posisi dimasyarakat, selama hidup didunia.

Hidup didunia ini waktunya terbatas, masih ada kelanjutan proses kehidupan, yaitu alam akhirat.
Kalau untuk kebutuhan duniawi, kita bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya, untuk kebahagiaan.
Tentunya kita juga bisa mengatur waktu untuk menuntut ilmu, yang dibutuhkan nanti diakhirat.
Kita kejar titel Mukmin, Mukhsin, Mukhlis, Mutaqin, untuk memperoleh posisi enak diakhirat.
Persyaratan untuk memperoleh titel Mukmin, sudah dijelaskan.
Demikian juga persyaratan untuk mendapat titel Mukhsin, Mukhlis, Mutaqin, sudah djelaskan.

Kita semua selalu berdoa: “Semoga hidup kita bahagia didunia dan diakhirat”
Sebenarnya, inilah tujuan kita dilahirkan didunia ini. Mengejar kebahagiaan didunia, juga diakhirat.
Apakah bisa tercapai hanya dengan berdoa saja? Tidak atuh. Perlu sekolah, perlu menuntut ilmu.
Menuntut ilmunya sampai dimana?
Kalau hanya memiliki ijazah SD, hidup kita lebih banyak penderitaannya, daripada kenikmatan.
Kalau hanya memiliki ijazah Muslim, hidup kita diakhirat lebih banyak penderitaannya.
Di alam perhisaban, yang berijazah Muslim, musti melalui pemeriksaan 10.000 tahun.
Sedangkan yang berijazah Mutaqin (orang yang taqwa), dibebaskan dari Perhisaban.

Dialam dunia ada ratusan bentuk tingkatan kesejahteraan, mulai dari rumah kumuh sampai istana.
Di akhirat ada 100 tingkatan sorga. Tergantung manusia itu sendiri, mau dimana ditempatkan.

Sebagai contoh , Bapak H dibebaskan dari perhisaban, diberikan tempat bersama para syuhada.
sebagai balasan atas segala pengorbanannya selama menjalani kehidupan dialam dunia.
Padahal modalnya hanya kesabaran menuntut ilmu agama, hanya satu buku yang dipelajari.
Beliau tidak tergiur dengan gemerlapannya dunia, karena sadar, tidak akan lama diam di Dunia.
Demikian mudahnya untuk mendapatkan posisi khusnul khotimah, kenapa tidak kita lakukan?

“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman serta mengerjakan
perbuatan baik, bahwasanya bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-
sungai dibawahnya” (QS Al-Baqarah 25)

Penulis : mang Karna

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: