Al Qur’an Sebagai Petunjuk.

Prosedur mengamalkan isi Al-Qur’an, melalui langkah-langkah 7 M, yaitu:
1    Membaca
2    Menterjemah
3    Mengkaji
4    Meneliti
5    Menghayati

6    Memahami

7   Mengamalkan

Keluarga Fulan berasal dari sebuah desa di Jawa, pola hidupnya jauh berbeda dengan orang Jakarta.
Demikian juga dalam masalah pendidikan agama, ada perbedaan pola belajarnya. Kalau kita teliti
lebih mendalam, orang desa itu umumnya “langsung” mengamalkan isi Al-Qur’an, karena masalah
keterbatasan sarana dan prasarana. Guru ngaji terbatas, buku-bukunya juga terbatas, dll.

Kita semua juga memiliki keterbatasan, bukan karena sarana dan prasarana, tapi keterbatasan
waktu luang. Kesibukan kita sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan hidup, membuat diri kita
hampir dapat dikatakan tidak ada waktu untuk persiapan akhirat. Oleh karena itu, kita ikuti saja
pola orang desa yang langsung mengamalkan Al-Qur’an, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Tentunya masing-masing tidak ada yang sama kebutuhannya. Misalkan suami sudah mengamalkan
masalah akhlak, sedangkan istri belum. Jadi masing-masing memiliki “yang sudah diamalkan” dan
juga “yang belum diamalkan”. Yang mengetahui persis kekurangannya adalah dirinya sendiri.
Berarti tidak ada gunanya mencari-cari kekurangan orang lain, karena kekurangan kita juga banyak.

Mengikuti Petunjuk Al-Qur’an:
Mang Karna kenal dengan Mas Fulan sudah puluhan tahun, tapi sepanjang hubungan ini, tidak
pernah menyinggung kekurangan masing-masing. Tidak pernah ikut campur urusan dalam negeri,
Mang Karna punya kekurangan, Mas Fulan juga punya kekurangan,  Urusan masing-masinglah.

Yang diterapkan keduanya hanya melaksanakan: “Saling tolong menolong” titik, sesuai petunjuk
Al-Qur’an. Dengan mengamalkan saling tolong menolong ini, maka keduanya beruntung dan bahagia.
Tidak ada dosa diantara keduanya, yang ada adalah nikmatnya bersaudara, selalu bersyukur, dan
Lihat sendiri, nikmat persaudaraan ini terus berlanjut sampai detik ini, demikian bahagianya.

Menyimpang dari Petunjuk Al-Qur’an:
Kita diberi petunjuk agar selalu bersilaturahim dengan saudara kandung. Arti silaturahim adalah
saling tolong menolong dalam kebajikan dan terhapusnya dosa antar masing-masing. Tujuan ibadah
silaturahim ini adalah Menambah ibadah sedekah dan Menghapus dosa.

Suatu saat anak-anak Fulan berkumpul, lalu makan bersama, setelah itu dilanjutkan dengan
acara “berantem”, ada saja bahan perang mulut ini. Ternyata silaturahim ini disalah-gunakan, hanya
untuk ikut campur urusan masing-masing, adakalanya saling mendikte, saling salah-menyalahkan,
dan diakhiri dengan acara saling “tidak menegur”. Kesimpulannya: Silaturahim seperti ini, bukannya
menghasilkan amal dan terhapusnya dosa, malah jadi bertambah dosa dan terputusnya barokah.

Bila melakukan silaturahim sesuai petunjuk Al-Qur’an, hasilnya Kebahagiaan yang tidak terputus.
Bila melakukan silaturahim menyimpang dari petunjuk Al-Qur’an, hasilnya Penderitaan dan Dosa.

Itulah tujuan Al-Qur’an, sebagai petunjuk mencapai hidup bahagia, dimanapun kita berada.
Petunjuk diri sendiri belum bisa dijamin menghasilkan kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Penulis : Mang Karna

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: