Ujian Keimanan (3)

Al-Qur’an:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah
beriman” sedang mereka tidak akan diuji lagi?” (QS Al-Ankabut 2)

Pada hari yang sama, bersamaan dengan peringatan ulang tahun wafatnya Bapak H,
semua anak-anak Bpk. H diuji keimanannya, termasuk juga Mang Karna.
Ujian itu dimana-mana sama, yaitu menguji ilmu yang dimiliki, dalam hal ini adalah ilmu agama.

Mang Karna diuji keimanannya, sabar tidaknya melaksanakan amanat Mas H.
Anak-anak Mas H diuji keimanannya, ikhlas tidaknya menerima kekurangan kakaknya L.
L diuji keimanannya, sejauhmana kasih sayangnya pada adik-adiknya.
Hu dan Hi diuji keimanannya, sabar tidaknya menghadapi perilaku saudara perempuannya.

Pada akhirnya semua selesai, karena jawabannya benar, berpedoman pada petunjuk ilmu agama.
Kalau jawabannya “semau gue” tidak akan terjadi kerukunan. Ujian musti diulangi, besok-besok
diuji lagi dengan kasus sama. Enggak di Jkt, enggak di Balikpapan, enggak di Walikukun, enggak dimana-mana, ribut.

Ujian keimanan ini akan berlanjut terus, sampai kita masuk liang lahat. Bersiap-siaplah, karena
tiap hari kita disodorkan ujian keimanan. Dimanapun juga, kalau mau lulus ujian, musti belajar,
Itulah tujuannya Kajian ilmu agama ini, agar anak-anak Mas H bisa lulus ujian keimanannya.
Itulah tujuan Mas H memberikan amanat pada Mang Karna, demi kebahagiaan anak-anaknya.

CONTOH KASUS:
Anak Ibu D, In namanya, suatu saat memecahkan gelas dirumah Ibu S, tanpa basa-basi lalu
Ibu D memarahi In abis-abisan, dicubit lagi. Kalau pikiran kita sehat, In ini tidak bersalah, tidak
mengerti apa-apa, In sedang melatih syaraf motoriknya, kenapa dimarahin? Kenapa dicubit?

Ibu D diuji soal anak, untuk mengetahui apakah jawaban Ibu D salah atau benar, buka ilmu agama:
Al-Hadits:
“Janganlah kamu marah dan memukul anak karena memecahkan wadah.
Sesungguhnya wadah itu memiliki batas akhir, seperti halnya ajalmu”.

Ternyata jawaban Dewi salah, yang semula dianggap benar, bisa salah dihadapan Allah.
Guru TK tiap hari menghadapi puluhan anak sebaya In, tapi tenang-tenang saja,
tidak mengalami stress, karena berpedoman pada ilmu agama,  bukan pada “nafsu amarah”

ibu D melaksanakan pernikahan mengikuti cara Islam. Melayani suami mengikuti cara Islam,
Melayani orangtua mengikuti cara islam. Mencari nafkah mengikuti cara Islam. Berpakaian juga
mengikuti cara Islam. Di Mauqiful Hisab nanti, Ibu D diadili soal melayani anak, Malaikat akan
bertanya: “Mengapa mendidik anak tidak mengikuti cara Islam?”

Allah sudah memberikan petunjuk cara mendidik anak, agar anak bisa sholeh atau sholeha, bisa
mengangkat derajat Ibu Bapaknya, bisa memasukkan orangtuanya masuk sorga, walau berdosa.
Tapi manusia itu sendiri yang suka meng-azab dirinya sendiri, mengundang datangnya penyakit.

Setiap kita menghadapi ujian keimanan, hanya ada dua pilihan: “Mengikuti kehendak sendiri” atau
“Mengikuti petunjuk agama”. Kalau kita mengikuti petunjuk agama, dijamin benar.
Kalau setiap disodorkan ujian, selalu lulus, maka tingkat keimanan kita makin lama makin naik,
suatu saat nanti sampai pada tingkat Muttaqin, orang-orang yang taqwa, itulah tujuan hidup kita.

Penukis : Mang Karna

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: