MENGINGAT MATI

Kita sering melihat orang-orang yang meninggal, kita juga sering mendengar proses meninggalnya,
Ada yang mudah proses dicabutnya nyawa dan juga ada yang mengalami kesulitan.
Ada yang sakit sebelum meninggal dan ada yang meninggal secara mendadak.
Ada yang sakitnya bertahun-tahun, ada yang berbulan-bulan, ada yang hanya sekian hari saja.
Masa sakit ini biasanya terkait dengan biaya, makin lama sakitnya, makin besar biayanya.

Kita sudah menyaksikan melalui layar TV, demikian banyak musibah terjadi, diantaranya tanah-
longsor, gempa, banjir, kapal tenggelam, dll. Coba perhatikan, siapa-siapa saja diantara para
korban ini yang meninggal. Mereka adalah orang-orang miskin. Mereka mati sahid. Itulah cara
Allah mengangkat derajat orang miskin, menjadi penghuni surga, disejajarkan para syuhada.

Status sosial kita termasuk orang-orang yang mampu, kecil kemungkinannya mati sahid seperti
orang miskin, tapi kita diberi kesempatan untuk meninggal secara husnul khotimah, bila kita
mampu bersabar dalam berperang melawan nafsu yang ada didalam diri kita sendiri, sepanjang
usia kita, sebagaimana orang miskin bersabar dalam kemiskinannya sepanjang usianya.

Caranya adalah dengan selalu “mengingat mati”, merenungkan masa sesudah kematian.
Dengan mengingat mati, bisa terhindar dari perbuatan buruk, perbuatan maksiat.
Dengan mengingat mati, kita bisa melaksanakan ibadah dengan khusyu dan disiplin.
Dengan mengingat mati, kita bisa bersegera berbuat baik, tidak menunda-nunda beramal.
Dengan mengingat mati, kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk menambah ilmu agama.
Dengan mengingat mati, kita akan selalu menjaga ucapan lidah kita, hanya berkata baik saja.
Dengan mengingat mati, hati kita akan terpelihara, menjauhi segala macam penyakit hati.

Jadi, dengan mengingat mati ini, kita bisa mengendalikan perilaku kita sehari-hari kearah yang
lebih baik, yang artinya derajat kita dari hari kehari, akan meningkat, hati kitapun makin lama
makin tenang, karena makin lama diri kita makin dekat dengan Allah Yang Maha Menguasai
Alam Semesta ini. Akhirnya kita bisa mencapai kriteria “akhlaqul khorimah” (akhlak yang baik).

Tapi, jangan salah menafsirkan, tiap hari yang diingat mati melulu, kebutuhan hidup dilupakan.
Kita selalu ingat mati, pada saat mau berbuat keburukan, buru-buru kita hindari, takut dihukum.
Kita selalu ingat mati, pada saat mau berbuat kebaikan, buru-buru dilaksanakan, karena ada
kemungkinan esok hari tidak sempat lagi beramal.

Mati itu tidak perlu ditakutkan, karena memang hak kita. Ada yang pulang duluan, ada yang pulang
belakangan, hanya soal giliran saja. Karena mati itu sesuatu yang pasti, maka kita pastikan juga
persiapannya. Kalau sudah ada persiapan, pasti tenang, tidak akan gelisah.

Al-Hadits    Seseorang bertanya pada Rasulullah:”Diantara mukmin, siapa yang paling cerdik?”
Rasulullah menjawab: “Yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak
persiapannya untuk menghadapi masa sesudah kematian” (HR Majah dan Baihaqi)

Kita termasuk cendekiawan, bila mampu mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya, sebagai
persiapan untuk menghadapi kehidupan sesudah kematian.
Sisa waktu kita, dari hari-kehari, makin lama makin berkurang. Pada usia produktif (usia muda),
adalah masa-masa yang paling tinggi kesempatan untuk mengumpulkan bekal amal. Sedangkan
diusia tua, kesempatannya makin sempit. Mari kita berlomba-lomba menjadi orang yang cerdik.

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordpress.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: