Keluarga Sakinah (1)

Pada setiap acara pernikahan, biasanya selalu ada doa:
“Semoga bisa menjadi keluarga yang Sakinah, mawaddah dan wa rohmah”
Sakinah = Ketenteraman hidup.  Mawaddah = rasa cinta.  Rahmah = Kasih sayang.

Bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan Ketenteraman hidup dalam rumah tangga?
Dalam Al-Qur’an sudah ada petunjuk: Hak dan Kewajiban suami serta Hak dan Kewajiban istri.
Pada saat kita menikah, tidak terlintas pikiran untuk membaca isi perjanjian kita dengan Allah.
Yang ada adalah bayangan kebahagiaan dan kebebasan bermesraan berdua.

Pada umumnya, suami hanya punya kewajiban ngasi makan, ngasi pakaian, ngantar istri kesana
kemari, kredit rumah, kredit kendaraan, pokoknya memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sebenarnya masih banyak tugas suami, tapi jarang dikemukakan, karena cukup berat, padahal
sangat penting dalam membangun keluarga Sakinah. Tugas suami yang dilupakan, diantaranya:
Memperteguh keimanan istri.
Melindungi anggota keluarga dari siksaan api neraka.

Istri adalah titipan Allah. Diserahkan oleh Allah, pada saat suami mengucapkan Izab Kabul.
Allah akan murka bila barang titipan-Nya, dalam keadaan kotor. Allah akan senang sekali bila
barang titipan-Nya dijaga dan dipelihara kebersihannya (hati, ucapan dan perbuatannya bersih)

Berarti suami musti memperkuat / memperteguh keimanan istri. Ini pekerjaan berat, sepanjang usia.
Bagaimana kalau tidak sanggup? Lho, ‘kan dulu sewaktu izab kabul bilang: “Saya terima (tugas ini)”
Tugas yang berat ini bisa menjadi ringan, kalau punya niat dihati. Modalnya adalah kesabaran.
Mau berapa lama suami mendampingi istri? Maunya sih sampe kakek-nenek.  Berarti masih cukup
banyak waktu untuk meningkatkan kualitas keimanan istri. Asalkan sabar saja.

Kalau memang punya niat, mulailah dengan membersihkan lidah istri, yang suka asal ngomong.
“Wahai istriku tersayang, sukakah adinda menghilangkan kebiasaan membuka aib saudaramu?”
Lalu kita bersihkan hatinya:”Istriku tercinta, tolong deh, dibuang kebiasaan prasangka buruk”
Setelah itu, koreksi perbuatannya: “Lho Bu, itu ‘kan tidak baik, masih banyak kok cara yang baik”
Seorang suami berkomentar: “Ngomong sih enak,….. Kalo istriku ndablek, gimana?”
Sabar dong. Kalau tidak mau sabar mendidik istri, ujungnya adalah bercerai. Tuh contohnya banyak.

Melindungi istri
Seorang suami demikian sayangnya pada istri, segala-galanya dipenuhi, mau kemana diturutin.
Suatu saat istri bertanya: ” Kalau Mas sayang padaku, lindungi aku dong, dari panasnya api neraka”
Berarti suami berkewajiban untuk membimbing istri, jangan sampai masuk tungku api membara.
Bagaimana kalau suami tidak mau? Ini namanya tidak sayang istri, membiarkan istri terbakar.
dan dibentak-bentak Malaikat yang kasar. Dimana sifat Mawaddah-nya suami?

Al-Qur’an:    “Wahai orang yang beriman, Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat

Al-Hadits:    “Suami itu pemimpin dalam rumah tangga, akan diminta tanggung-jawabnya atas
kepemimpinannya” (HR Bukhari)
Siapa bilang jadi suami itu enak? Nikmatnya sesaat, tapi tanggung-jawabnya sampai keakhirat.                                

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordpress.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: