MENANAM BENIH

Mas B puluhan tahun yang lalu menanam benih menuntut ilmu pertukangan, panennya
saat ini bisa memiliki bengkel, rumah, kendaraan dan tanah.
Pada saat menanam benih, tidak pernah terpikirkan bisa punya rumah, tanah dan mobil.
Mas H puluhan tahun yang lalu, menuntut ilmu musik dari teman-temannya. Saat ini panennya,
bisa menjadi pimpinan dan melancong kenegeri Inggris, tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sudah berminggu-minggu Mas S belajar “ilmu kesabaran” Memang tidak enak, batin tertekan.
Panennya bukan hari ini, tapi nanti sekian tahun kemudian, pada saat disodorkan ujian dari Allah.
Hari ini Mbak D menuntut ilmu mengenai pencegahan kenakalan anak remaja, panenya nanti, pada
saat anak-anaknya sudah remaja. Anak-anaknya akan terhindar dari berbagai perbuatan negatif.

Hari ini, kita lihat Ibu S, hadir di Majelis Taklim. Entah sudah berapa ratus kali, untuk apa sih?
Hari ini menanam benih untuk hari esok, untuk persiapan menjelang sakaratul-maut.
Ada orang yang meninggal dengan cara susah payah dan ada orang yang meninggal dengan enak.
Kalau Ibunda meninggal dengan enak, maka anak-anaknya juga ikut enak, tidak ada beban.

KESIMPULAN
Menanam benih artinya menuntut ilmu untuk hari esok.
Ilmu apapun yang dipelajari, akan kembali menjadi miliknya sendiri.
Menanam benih itu artinya berbuat baik.
Perbuatan baik sekecil apapun, akan kembali menjadi miliknya sendiri.
Menanam benih itu adalah bekal untuk hari esok.
Makin banyak jenis yang ditanam, makin banyak bekal untuk hari esok.

Al-Qur’an:    “Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan
jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri…”(QS Al-Isra 7)

Berapapun banyaknya yang kita berikan pada orang lain, pada akhirnya kembali pada diri kita.
Dengan kata lain:    “Tidak ada kerugian secuilpun, bila kita berbuat baik pada orang lain.
“Orang lain itu, hanya berfungsi sebagai alat transfer amal”
Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik.

Ibu S sering membantu orang yang sakit, sebenarnya bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya
sendiri. Sedangkan orang yang ditolongnya hanyalah alat transfer deposito Ibu S. Menanam
benihnya pada saat memiliki harta, panennya pada saat tidak bisa membawa harta.

Mas S belajar sabar, mengendalikan emosi, bukan berarti mengalah, justru sebagai pemenang
melawan musuh, yaitu “Nafsu yang ada didalam dirinya” Mas S sebagai pemenang, hadiahnya
adalah dalam bentuk berbagai kemudahan dalam segala bidang, termasuk jenjang karirnya.

Kalau hari ini tidak ada sesuatu yang kita tanam, tidak akan ada yang dipanen dihari esok.
Kalau hari ini ilmu tidak bertambah, akan tertinggal jauh dari orang lain, tidak bisa mengejarnya.
Kalau hari ini tidak berbuat kebajikan, bekal hari esok tidak akan bertambah.
Timbulnya penyesalan dikemudian hari, karena tidak ada yang ditanam sebelumnya.

Tanpa disadari, Setiap bangun pagi, sisa umur kita berkurang satu hari.
Usahakan setiap hari ada benih yang ditanam, walau sekecil biji cabe sekalipun.

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordpress.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: