TALI PERSAUDARAAN (2)

Ada proyek percontohan lainnya, yang saat ini masih berjalan mulus, lancar-lancar saja.
Khususnya bagi anak perempuan, coba perhatikan kakak beradik yang sudah nenek-nenek, Ibu S dan Ibu E.
Dua orang bersaudara, yang memiliki tempramen cukup tinggi, mudah tersinggung, mudah marah.
Pada saat menerima rezeki dari tetangga, entah itu duit atau makanan, dua-duanya dapat.
Jalan-jalan ke Bandung, Lembang atau ke Subang, kalau tidak berdua, katanya enggak happy.

Kenapa bisa demikian? Apa sih kiat-kiatnya?
Modalnya gampang. Dalam suka dan duka, selalu tolong menolong, titik, jangan ditambah-tambah.
Tali persaudaraan keduanya, tidak pernah dikaitkan dengan perbedaan rezeki.
Kedua nenek ubanan ini, punya penyakit hati, tapi tidak pernah dikaitkan dengan persaudaraan.
Penyakit hati disembunyikan pada saat sedang berdua. Pertemuan tanpa ada rasa iri, benci, dll

Suatu saat Fulan bertanya: “Ada teman saya, minta tolong pada saya, tapi dulu teman saya ini
sering bikin sakit hati saya, bagaiman kira-kira, apakah saya bantu atau tidak”
si Fulan dibisikan: “Kalau mau menolong orang lain, tolonglah, titik. Jangan ditambah-tambah.
Artinya, jangan dilihat latar belakangnya, jangan dilihat perilaku buruknya.
Soal perilaku buruknya, itu urusan antara dirinya dengan Allah, Kamu tidak perlu ikut campur.

Fulan menolong Oom B, titik. Jangan dilihat latar belakangnya, bisa putus persaudaraan.
Padahal semua mengetahui persis, perilaku Oom B yang menyakitkan seluruh keluarga.
Fulan bisa menolong Oom B, hanya dari segi materi saja, misalkan biaya pengobatan.
Fulan tidak bisa menolong penderitaan Oom B, tidak bisa mengurangi rasa sakitnya.
Penderitaan yang dialami Oom B, adalah urusan antara Oom B dengan Allah.

Kalau ada dua anak Anda, semula senang sekali dengan tolong menolong sesama saudara.
tapi bila hubungan yang harmonis ini, lalu ditambah, dikaitkan dengan penyakit iri, dengki, dendam,
prasangka buruk, emosi, dll. Maka akibatnya putuslah tali persaudaraan yang dibina cukup lama.
Kalau kita punya penyakit hati, simpanlah baik-baik didalam lemari, jangan dibawa-bawa kerumah
saudara kandung, jangan dibawa-bawa kerumah Ibu, jangan dibawa-bawa ke sanak saudara.

Coba pelajari perilaku kedua nenek-nenek diatas, nampak harmonis, ngobrol seenaknya, makan
seenaknya, padahal dua-duanya punya penyakit darah tinggi, yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Dalam soal duit, tidak pernah menghitung, berapa banyak yang telah diberikan pada saudaranya.
Dalam hati mereka berdua, ada pepatah:        “Yang sudah lalu,…. Berlalulah”
Hati mereka ikhlas, tidak pernah mengungkit-ungkit jasa masing-masing. Bener juga sih.

Kalau kita ingin berbakti pada Ibu, Berbaktilah pada Ibu, titik. Jangan ditambah embel-embel.
Jangan menghitung, berapa banyak yang telah diberikan. Jangan bertanya: “Si Anu ngasi berapa?”
Yang mencatat amal bakti kita pada Ibu, adalah dua Malaikat dikiri-kanan kita, bukan Ibu.
Yang akan membalas amal bakti kita pada Ibu, adalah Allah SWT, bukan Ibu.

Dimanapun juga, yang namanya Ibu, pasti memperhatikan kebutuhan anak-anaknya. Demikian
banyak pengorbanan Ibu, didalam merintis tali persaudaraan, guna kebahagiaan anak-anak.
Hasilnya: Anak-anak bisa memperoleh rezeki yang barokah. Lembaran kajian ilmu agama ini,
bisa sampai ketangan anak-anak, berkat usaha Ibu, menjalin hubungan baik dengan adiknya.
Ada pertanyaan untuk kita:    Bagaimana cara kita membalas budi luhur Ibu ?
Peliharalah tali persaudaraan, semanis mungkin, maka Ibumu sangat bahagia sekali.

Penulis : Mang Karna/Pengobatangratis.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: