KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Al-Hadits:    “Keutamaan ilmu itu lebih baik daripada keutamaan ibadah” (HR Al-Bazzar)
Menuntut ilmunya terlebih dahulu, baru kemudian ibadah, pasti ibadahnya sempurna.
Berarti, menuntut ilmu lebih tinggi nilainya daripada ibadah itu sendiri.
Kita kursus komputer, bukan ijazahnya yang kita kejar, tapi ilmunya yang kita pelajari agar kita bisa
menggunakan perangkat komputer. Tidak ada artinya ijazah, tanpa menguasai ilmunya.

Kalau kita ingin menghadap Direktur dikantor, maka sikap dan perilaku kita sopan sekali dan
penampilan kita juga dalam keadaan enak dipandang. Demikian juga bila kita sholat, menghadap
Allah, juga diperlukan perilaku akhlak yang baik sehari-hari dan dalam keadaan bersih segalanya.

Kalau kita baru saja berbuat pelanggaran dikantor, lalu menghadap Direktur, bagaimana kesan
Sang Direktur?  Ada rasa benci lalu buang muka. Permohonan apapun juga tidak akan dikabulkan.
Demikian juga bila kita melanggar hukum Al-Qur’an, lalu kita sholat menghadap Allah, berdoa dalam
sholat, maka doa kita tidak akan didengar, karena Allah menjauhi kita.

Kalau kita mempelajari masalah ilmu pendidikan yang ada didalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka
kita akan terpesona dengan berbagai perangsang / hadiah / bonus, bagi yang mau mempelajarinya.

Al-Hadits:    “Menuntut ilmu agama sesaat, lebih baik dari bangun ibadah satu malam dan
menuntut ilmu agama sehari, lebih baik daripada puasa selama tiga bulan”
“Mempelajari satu ayat Al-Qur’an, lebih baik daripada sholat seratus rakaat”

“Barang siapa mencari ilmu agama, berarti menebus dosa-dosanya yang telah lalu”
“Siapa yang pergi menuntut ilmu agama, Allah membukakan pintu surga untuknya.
Malaikat membentangkan sayapnya untuknya, Malaikat dilangit dan ikan-ikan
dilautan mendoakan untuknya”

Mempelajari ilmu agama, luar biasa pahalanya. Kalau sudah bisa, pasti naik kelas dong.
Al-Qur’an:    “Allah mengangkat dan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu,
beberapa derajat / tingkat”

Kita menuntut ilmu agama untuk mengejar “kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat”
bukan untuk mengejar titel sarjana agama dan juga bukan untuk menjadi guru agama.

Setiap ilmu apapun juga, bisa untuk berbuat kebaikan dan juga bisa untuk berbuat kejahatan.
Ilmu agama juga bisa untuk berbuat kejahatan, contohnya teroris.
Ilmu Komputer juga bisa untuk berbuat kejahatan, misalkan menipu Bank.
Jadi tujuan menuntut ilmu itu untuk berbuat kebaikan, bukan untuk berbuat kejahatan.

Kita dianjurkan menuntut ilmu duniawi setinggi-tingginya, tapi tidak melupakan ilmu untuk akhirat.
Kita dianjurkan mengumpulkan bekal untuk hari tua, tapi tidak melupakan bekal untuk akhirat.
Kita dianjurkan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tapi tidak melupakan simpanan akhirat.
Jadi ada keseimbangan antara kebutuhan hidup didunia dengan kebutuhan hidup diakhirat.

Karena kita semua hidup di dua alam, alam dunia dan alam akhirat,
Dua-duanya memerlukan bekal, dua-duanya memerlukan ilmu untuk mengejar status.

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: