MENGENAL ALLAH (1)

Mengenal Allah, bagaikan mengenal Bapak kita.
Seorang anak disebut kenal Bapaknya, kalau sianak sudah mengetahui persis sifat Bapaknya.
Seorang muslim disebut mengenal Allah, kalau dirinya sudah mengetahui persis sifat Allah.
Seorang anak disebut kenal Bapaknya, kalau dirinya sering berdialog dengan Bapaknya.
Seorang muslim disebut mengenal Allah, kalau dirinya sering berdialog dengan Allah.

Anak kita sekolah SD sampai SMA, sudah diajarkan Mengenal Allah.
Pada tingkatan SD, diajarkan 5(lima) sifat-sifat Allah.
Pada tingkatan SMP, diajarkan 20 (duapuluh) sifat-sifat Allah.
Pada tingkatan SMA, diajarkan 99 (sembilanpuluh sembilan) sifat-sifat Allah.

Sejauhmana kita mengenal Allah?
Misalkan Mas Fulan, suatu saat dikantornya melihat ada kesempatan maling komputer.
Timbul keberanian untuk maling karena hatinya berkata: “Ah, tidak ada yang melihat”
Padahal Mas Fulan, pernah duduk di SD, bahwa Allah itu Maha Melihat.
Mas Fulan disebut mengenal Allah, hanya dibibir saja, sedangkan hatinya tidak kenal siapa Allah.

Si A, bisa lulus Akabri, setelah mengalami kegagalan dua kali, alias 2 tahun menunggu, baru lulus.
Untuk bisa lulus, kata orang minta memo pada Presiden atau Panglima TNI, … yah, tidak mungkin.
Ada lagi, katanya musti pake duit puluhan juta,….. Yah, darimana duitnya?
Mang Karna ngasi tahu si A: “Coba minta Memo pada Yang Maha Penolong”
Bagaimana caranya?
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu….” (QS Al-Baqarah 45)

Mulailah proses mendekati Allah, mulai berdialog dengan Allah 5 x sehari. Ditambah lagi dengan
sholat tahajud, agar bisa lebih dekat lagi dengan Allah. Ternyata ada perubahan, gagalnya tidak
di Jakarta, tapi sudah masuk Magelang. Proses pendekatan pada Allah berjalan terus, dengan
ditambah melaksanakan “kesabaran” disegala bidang. Testing yang ketiga kali, berhasil lulus.
karena “Allah sangat sayang pada orang-orang yang sabar, dan sering berdialog dengan Allah”

Kalau dilihat lahiriahnya, postur tubuh si A tidak berubah, Otaknya juga tidak bertambah.
yang berubah adalah kadar keimanannya dan bertambah kadar kesabarannya.
Kesabaran si A, bukan hanya menunggu sampai 2 tahun, juga ditambah dengan kesabarannya
menuntut ilmu agama, yang adakalanya sampai jam 02.00 pagi. Kalau ngantuk, bukannya disuruh
tidur, tapi disuruh cuci muka, agar segar kembali. Proses belajar ini dilakukan selama 2 tahun.

Bukti nyata, jelas bahwa Firman Allah itu Maha Benar.
Bukan sesuatu yang mudah untuk meyakinkan si A akan kebenaran Surat Al-Baqarah 45.
Diperlukan kesabaran kedua belah pihak. Kalau Cuma sepihak, sulit untuk menanamkan keyakinan.

Al-Qur’an:    “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku-pun akan ingat kepadamu” (QS Al-Baqarah 152)
Surat inipun sudah dipraktekan si A, pada saat mengikuti testing jasmani, lari keliling lapangan.
Diberi pengarahan, sambil lari, berzikir La illaha ilallah, secara lahiriah, napasnya pasti teratur.
Alat komunikasinya adalah Zikrullah (mengingat Allah), maka Allah akan melindungi kita.

Kalau kita selalu ingat akan petuah dan nasehat orang tua, ada keyakinan kuat kita aman dan
terlindungi dari berbagai rintangan. Demikian pula hubungan kita dengan Allah.

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordpress.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: