ILMU BERSYUKUR

Katakanlah di bengkel Mas Fulan ada dua tukang, Tukang A dan Tukang B.
Tukang A, rajin kerjanya, jujur perilakunya, pokoknya disenangi Mas Fulan.
Karena pekerjaannya dan perilakunya memuaskan, maka dia diberikan kesempatan untuk
membuat apa saja untuk keperluan perabotan dirumahnya.
Tukang B, biasa-biasa saja, tapi suatu saat maling tiner, kepergok beberapa kali, lalu dikeluarkan.

Tukang B digolongkan orang yang kufur nikmat, sehingga mendapat azab dari Allah, dipecat.
Tukang A digolongkan orang yang bersyukur, sehingga Allah memberikan tambahan kenikmatan.
Sikap bersyukur itu diungkapkan dalam bentuk memuaskan orang yang memberi rezeki dengan
cara meningkatkan kualitas pekerjaan dan perilaku = Meningkatkan kualitas amal kebajikan.

Setiap karyawan menerima gaji pada akhir bulan. Menerima rezeki yang demikian banyak. Lalu
mengucapkan terima kasihnya pada siapa? Pada Direktur? Tidak, dia juga sama-sama karyawan.
Tidak ada ucapan terima kasih, lalu apa yang dilakukan si-karyawan ini? Kembali bekerja seperti
biasa, artinya melaksanakan Ketaatan pada aturan perusahaan, sebagai ungkapan bersyukur.
Berusaha memuaskan orang yang memberi rezeki, dengan meningkatkan kualitas pekerjaannya,

Sikap bersyukur itu, terdiri dari tiga amalan, yaitu:

1. Syukur Qolbu(hati)        Ada keyakian di hati, semua rezeki itu dari Allah.

Bukan dari Perusahaan, bukan dari si Pemesan barang.
2. Syukur Lisan(ucapan)   Begitu mendapat rezeki, maka ada usaha meningkatkan
kualitas ucapan, makin bisa mengucapkan kalimat yang enak.
3. Syukur Jawarih(perbuatan)    Begitu menerima rezeki, maka ada usaha meningkatkan
kualitas pekerjaan dan perilaku = Kualitas amal kebajikan.

Andaikan suami-istri ingin bertambah kenikmatan berkeluarga, kuncinya adalah bersyukur, yaitu:
Istri berusaha terus meningkatkan kualitas pelayanan pada suami dan tutur katanya makin enak.
Suami berusaha terus meningkatkan kualitas pelayanan pada istri dan tutur katanya makin enak.

Kita sering menonton kisah selebriti, baru sekian tahun menikah, lalu bercerai. Padahal apa sih
kekurangannya? Penampilan OK, harta lebih dari cukup, sumber rezeki cukup besar.
Penyebabnya karena kufur nikmat. Maka Kebahagiaan berubah menjadi azab yang pedih.

Suami-istri sering ribut, cekcok, saling salah-menyalahkan, artinya kualitas pelayanannya makin
menurun, tutur katanya makin buruk, akhirnya azab Allah datang, maka orang sering bilang:
“Rumahku bagaikan Neraka”,  Niqmat berubah menjadi Naqmah (penderitaan)
Bisa kembali membangun “Rumahku, sorgaku” kalau keduanya taubat, saling maaf-memaafkan,
saling menyadari bahwa dirinya telah berbuat “kufur nikmat”

Al-Hadits:    “Dan barangsiapa yang tidak bersyukur atas yang sedikit, berarti tidak mensyukuri
yang banyak. Dan barangsiapa yang tidak mensyukuri terhadap manusia, berarti tidak
mensyukuri atas nikmat Allah” (HR Baihaqi)

Kalau kita sudah meng-ikrarkan “kurang”, maka seterusnya akan kurang, berapapun
tambahannya, tetap saja merasa kurang, akhirnya tidak bisa menikmati apa yang ada.
Kalau kita sudah meng-ikrarkan “cukup” maka seterusnya akan cukup, walau hartanya
berkurang karena sedekah, tetap merasa cukup, akhirnya bisa menikmati apa yang ada.

Penulis : Mang Karna/pengobatangratis.wordprewss.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: