HAK ORANG MISKIN.

Kita hidup dikelilingi orang-orang yang kurang mampu dari segi harta, misalkan tukang beca,
tukang ojek, kuli bangunan, pedagang makanan kecil, pedagang sayuran, tukang sampah, dll.
Kemudian kita bercermin diri, melihat status kita sendiri, ternyata kita hidup lebih baik dari mereka.
Sudah sewajarnyalah kita bersyukur pada Allah SWT, diberi kelebihan dari orang lain.

Kita perhatikan postur tubuh kita, sehat dan lengkap. Kita lihat tubuh orang lain, ada yang cacat
tubuh, kekurangan kaki, tangan atau mata. Ada yang tidak bisa melihat, ada yang tidak bisa
berjalan. Sudah sewajarnya kita bersyukur pada Allah SWT, diberi kesempurnaan jasmani.

Tiap hari Jumat, kita sholat Jumat ke Masjid terdekat, coba perhatikan, sispa-siapa saja yang
hadir di Masjid untuk sholat Jumat. Diantaranya ada orang-orang yang miskin harta, diantaranya
ada orang-orang yang cacat tubuhnya, ada yang kakinya pincang, jalannyapun terseok-seok.

Mereka menghadap Allah, bersujud, sebagai ungkapan rasa bersyukur, tanpa melihat kekurangan.
Walaupun dalam posisi hidup serba susah, toh mereka tetap beriman, memiliki kesabaran dan
kejujuran, mencari nafkah secara halal, padahal jalan yang haram terbuka lebar didepan matanya.

Orang yang miskin bersabar dalam kemiskinannya dan bersabar dalam melaksanakan ibadah.
Karena kesabaran inilah, maka Allah memberikan nilai pahala ibadahnya, lebih dari pahala ibadah
orang yang mampu. Allah memberikan tiga karunia pada orang yang miskin, yaitu:
1    Bila meninggal, digolongkan mati sahid.
2    Masuk surga terlebih dahulu, terpaut 500 tahun dari orang yang mampu.
3    Setiap perbuatan kebajikannya, dilipat-gandakan pahalanya dari orang yang mampu.

Rasulullah bersabda:
“Umatku yang miskin, akan berdiri nanti dihari kiamat dengan wajah-wajah mereka
bagaikan bulan, rambut mereka bagaikan duri dari permata, ditangan mereka ada
gelas bercahaya, mereka duduk diatas mimbar bercahaya, sedangkan orang lain
sedang dalam perhitungan amal-amal mereka (dihisab)”

Selama ini hidup kita cukup enak, diberi harta yang cukup, juga diberi kesempurnaan tubuh.
Kenikmatan kita ini tidak gratis, akan diminta tanggung-jawabnya di Mauqiful Hisab, akan dihitung,
berapa kilo perbuatan baiknya, berapa kilo perbuatan buruknya. Sedangkan tukang sampah,
tukang gali, tukang beca, pembantu rumah, mereka berada ditempat yang indah, pada saat kita
sedang dihisab. Saat ini, kita duduk santai, pada saat si miskin sedang menderita kekurangan.

Adakalanya kita menganggap orang miskin statusnya lebih rendah dari diri kita. Adakalanya
kita memaki orang miskin, menghina orang miskin, merendahkan orang miskin, padahal mereka
calon penghuni surga kelas VIP, berkumpul dengan para Nabi, para Wali dan para Syuhada.

Kini, kita tempatkan orang-orang miskin yang berada dilingkungan kita, sebagai orang yang
memiliki tingkat kesabarannya lebih tinggi dari kita, sudah sewajarnyalah kita hargai mereka,
kita hormati mereka, sebagaimana layaknya kita menghormati orang-orang yang mampu.
Inilah salah satu bentuk bersyukur kita pada Allah SWT, karena diberikan rezeki lebih dari mereka.

Didalam rezeki yang kita terima, ada titipan rezeki untuk mereka, berikanlah haknya.
Bila tidak bisa membantu mereka, kita masih bisa berdoa “Semoga mereka sehat selalu”


Penulis : Mang Karna/Pengobatangratis.wordpress.com

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: