UJIAN KEIMANAN (2)

Keimanan kita diuji, untuk mengetahui kualitasnya, berapa besar prosentase kadar keimanan kita.
Di bulan Puasa, kita bisa mengendalikan nafsu, berjam-jam, tidak tergiur makanan dan minuman.
Berarti kadar keimanan kita tinggi, karena yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
Pada saat kita mencuri, kadar keimanan kita menjadi nol, karena tidak yakin bahwa Allah itu, ada.

Kita sering mendengar, keimanan seseorang itu, bisa berubah setiap saat, bisa tinggi, bisa rendah.
Alat untuk mengendalikan keimanan ini, agar tetap stabil, adalah dengan cara zikrullah, ingat Allah.
Salah satu alat petunjuknya adalah: Mengucapkan Basmallah, setiap melakukan kegiatan apapun.
Niat kita mau menggunakan telpon kantor, sebelum mengangkat gagang telpon, kita mengucapkan:
“Bismillaahi rahmaanir rahiim”, dengan nama ALLAH, yang Maha Pengasih dan Penyayang”

Ucapan ini, ada yang Cuma dibibir, ada yang sampai kehati sanubari yang dalam.
Kalau hanya dibibir, mengangkat gagang telpon bisa berlanjut terus, hingga selesai urusan pribadi.
Kalau iman kita sampai kehati, buru-buru gagang telpon dikembalikan pada tempatnya semula, lalu
kita mengucapkan istighfar, minta ampun pada Allah, karena Allah Maha Menghukum.

Fulan bekerja dari pagi sampai larut malam. Pada jam istirahat, tergiur menggandeng tangan cewe.
Jangankan ingat istri, dengan Allah saja lupa. Allah ada disampingnya, melihat persis perilakunya.
Andaikata Fulan tidak minta ampun pada Allah, kapan mau diampuni Allah? Wong tidak minta kok.
Ibu sudah bilang, “kalau kesandung batu, buru-buru nyebut”  Apalagi kesandung perempuan cantik.

Hukum Al-Qur’an:”Barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka pahalanya untuk dirinya
sendiri. Dan barangsiapa berbuat jahat, maka dosanya menjadi
tanggungan dirinya sendiri” (QS Fussilat 46)

BESAR ATAU KECIL SAMA SAJA.
Maling Rp.300,– dengan maling Rp.300.000,- sama-sama maling, tetap saja dihitung dosa.
Mengapa maling Rp.300,- tetap dihukum? Jangan sampai berkembang menjadi maling Rp. 3 juta.
Maling itu, makin lama makin pintar sendiri. Makanya tidak perlu mendirikan Akademi Permalingan.

Suatu saat Fulan menangkap pencuri seekor ayam, lalu dijebloskan ke penjara.
Masyarakat sekitarnya protes,  Cuma maling ayam doang, kenapa musti masuk tralis penjara?
Kalau dihitung, biaya operasi menangkap pencuri ayam, jauh lebih besar dari harga ayam.
Dalam masalah menegakan hukum, bukan soal nilai rupiahnya, tapi soal mendidik akhlak.

Perintah Allah:    “Peringatkanlah mereka dengan Al-Qur’an, agar masing-masing diri
tidak terjerumus kedalam neraka karena perbuatannya sendiri”
(QS Al-An’am 70)

Apa yang dilakukan Fulan sebagai penegak hukum, kalau kita buka Al-Qur’an, disebut mengamalkan
isi Al-Qur’an, melaksanakan perintah Allah, menyelamatkan umat, jangan sampai masuk neraka.
Dengan dimasukkan kedalam penjara, diharapkan mereka bertobat, lalu kembali menjadi beriman.

Kita sebagai manusia sebenarnya bisa menjadi penegak hukum didalam keluarga sendiri,
menyelamatkan keluarga dari hukuman didunia dan siksaan api neraka.
Bagaimana caranya? Peringatkan mereka dengan Al-Qur’an, jelaskan hukum-hukumnya.
Kalau memang punya niat, tidak ada hambatan, urusannya menjadi mudah.

Penulis : Mang Karna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: