UJIAN KEIMANAN (1)

Saya bekerja disuatu perusahaan swasta.
Kasus 1    Suatu hari saya menggunakan mesin fotocopi dikantor untuk fotocopi KTP 3 lembar,
untuk kepentingan pribadi.

Menurut agama: “Saya maling Rp. 300,–
Menurut saya: “Saya tidak maling”

Kasus 2    Suatu hari saya menggunakan telpon kantor untuk urusan keluarga.

Menurut agama: “Saya maling pulsa”
Menurut saya: “Saya tidak maling”

Kasus 3    Suatu hari saya mbolos kerja, ada urusan bisnis. Absen tetap saya isi, agar uang
makan dan uang transport, bisa utuh.

Menurut agama: Saya menipu”
Menurut saya: “Saya tidak menipu”

Hukum didunia:        Bebas dari hukuman, tidak ada yang menegur, berarti saya tidak salah.
Hukum diakhirat:    Saya akan menerima siksaan dialam perhisaban, karena melanggar
hukum Al-Qur’an dan tidak mau minta ampun pada Allah.

Mengapa berbeda pendapat? Karena saya gagal ujian naik tingkat dari MUKMIN ke MUKHSIN.
Andaikata saya yakin bahwa Allah Maha Melihat, dan saya yakin
ada Malaikat Rakib dan Atid disamping saya, pasti saya lulus.

Bagaimana caranya agar bisa bebas dari siksaan dialam perhisaban?
Untuk fotocopi 3 lembar KTP, saya datangi saja toko fotocopi. Murah, hanya Rp.300,-
Untuk menelpon urusan pribadi, datangi saja Wartel. Murah, paling hanya Rp.500,–
Saya memilih maling, daripada mengeluarkan duit Rp.300,- karena iman saya rendah.
Tidak yakin bahwa Allah melihat perbuatan saya, tidak yakin ada Malaikat pencatat.
Sifat-sifat Allah dan tugas para Malaikat, adanya dalam Rukun Iman.
Saya rajin melaksanakan Rukun Islam, tapi saya mengabaikan Rukun Iman.

Dasar Al-Qur’an:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah
beriman” sedang mereka tidak akan diuji lagi?” (QS Al-Ankabut 2)
Saya mengira bahwa saya sudah tergolong orang yang beriman, karena sudah sholat, puasa, haji.
Saya mengira, kalau sudah ibadah, segala urusan akhirat sudah beres, tidak akan di-test lagi.

Selama ini saya hanya taat pada hukum yang dibuat manusia, KUHP dan hukum lalu lintas.
Saya tidak mengetahui bahwa ada hukum sunnatullah, hukum yang tidak bisa ditolak siapapun.
Saya tidak mengetahui bahwa Rukun Iman itu lebih penting dari Rukun Islam.

Hukum didunia tetap berjalan, hukum sunnatullah juga tetap berjalan, terjadi perbedaan karena
kebodohan saya, tidak mempelajari kaidah-kaidah hukum yang tercantum dalam Al-Quran,
sehingga yang semula saya anggap halal, ternyata haram.
Akibatnya, diakhirat nanti saya jatuh tergelincir, hanya gara-gara tidak mau keluar duit Rp.300,-
hanya gara-gara malas jalan ke wartel.

Ternyata ujian untuk naik tingkat ke Mukhsin itu sebenarnya mudah, setiap orang mampu.

Penulis : Mang Karna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: