MENCARI PENOLONG.

Kita bisa hidup bahagia, karena adanya pertolongan dari segala penjuru manusia sekitar kita.
Bisa makan enak, karena bantuan petani, sopir, kuli, pedagang grosir, pedagang dipasar, dll.
Apakah bantuan dari orang lain ini, kita terima dengan gratis? Tidak sama sekali, musti kita bayar.
Dibayar dengan hasil keringat kita sendiri. Dibayar dengan perbuatan amal kebajikan.

Pada saat-saat tertentu, kita memerlukan pertolongan, tapi tidak bisa minta bantuan pada orang-
lain, misalkan pada saat kena musibah, pada saat terbaring sakit, atau pada saat menghadapi
ujian kehidupan. Lalu mau minta tolong pada siapa?  Tidak ada seorangpun yang bisa menolong.

Kita ambil contoh Suparman, bagaimana dia menghadapi ujian berat, dimana tidak ada seorangpun
yang bisa menolong beban hidupnya. Selama 10 tahun merawat istrinya yang sakit, mencuci
pakaian, mengurus rumah, mengurus anak dan mencari nafkah, sungguh luar biasa ujiannya.

Bagaimana cara Suparman bisa lulus dari semua ujian berat ini? Hanya satu yang dilaksanakan:
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu….” (QS Al-Baqarah 45)
Sabar dijadikan obatnya, sholat tahajud dijadikan tempat curahan hatinya ditengah malam.
Tidak ada ucapan keluhan, tidak ada penyesalan, semua ini diterima dengan kelapangan hati.

Setiap Si Fulan mengalami kesulitan berat, selalu mengamalkan ayat tersebut. Hasilnya nikmat.
Sabar 2 tahun, agar bisa disebut Taruna. Sabar 18 tahun, untuk bisa punya rumah sendiri.
Andaikan adik-adiknya mengalami kesulitan, ikuti jejak Heru, pasti hasilnya nikmat.
Ayat Al-Qur’an tersebut jangan dirubah menjadi: “Jadikanlah Si Fulan sebagai penolong”
Hasilnya bukannya nikmat, tapi menjadi sumber keributan sesama saudara, pasti ada yang iri.

Di stasiun kereta api ada penjual koran, dua kakinya cacat, tidak bisa berdiri normal. Padahal
dia bisa menjadi pengemis yang hasilnya jauh lebih besar, toh tetap bertahan hidup mandiri.
Orang yang cacat tubuh ini ternyata memiliki kadar keimanan dan kesabaran yang tinggi.
Memiliki cacat tubuh tidak merasa malu, justru menjadi pengemis malah merasa malu.

Kita saksikan, begitu banyak orang yang meminjam uang, padahal tubuhnya komplit, memiliki
mata pencaharian, masih bisa membiayai makan sekeluarga. Mengapa sampai pinjam uang?
Karena tidak memiliki kesabaran pada saat menghadapi ujian. Rasa bersyukurnya tipis, tidak
sadar bahwa hartanya cukup. Yang ada dibenaknya hanya ingin memuaskan nafsu duniawi.

Seorang tukang kayu meminjam uang pada Putri, sudah sekian lama tidak mau membayar
hutangnya, dengan alasan karena Putri tidak pernah menagih dan dianggap Putri sudah kaya.
Hutang tetap hutang akan terbawa sampai hari kiamat. Dipadang Mahsyar nanti terjadi transaksi,
si tukang kayu membayar hutangnya pada Putri dengan mata uang amal-amalnya.
Putri menolong tukang kayu, tidak ada kerugian secuilpun, walau uangnya tidak kembali.

Allah sudah demikian banyak memberikan kenikmatan pada kita semua, dimulai dari anggota
tubuh kita yang lengkap, kesehatan, keluarga, rumah, kendaraan, makanan, pakaian, dll,
Apakah masih belum cukup? Jangan sampai kita kufur nikmat, karena ada kemungkinan Allah
mencabut kenikmatan kita, mengirimkan penyakit berat, musibah atau proses sakarat yang lama.

Bersyukurlah dengan apa yang telah diberikan Allah, agar kenikmatan kita bertambah.
Bersabarlah dalam menghadapi berbagai kesulitan, karena Allah sayang pada orang yang sabar.

Penulis : Mang Karna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: