Wejangan 30 April 2010

Kita memikirkan dunia tapi harus memikirkan juga akhiratnya. Jadi orang baik itu tidak mudah. kalau kita nggak punya gurunya, nggak bisa membedahnya, nggak ngerti ilmunya. Dibedah dulu batinnya, pikirannya. Iman itu apa? untuk memelihara iman itu bagaimana? cahaya iman itu bagaimana? jadi nggak kita enak-enakan. Orang mau mendapat hidayah, dapat petunjuk, dapat rahmat. Habis sholat kita tidur, habis sholat kita main, tidak begitu. Tapi dicari..

Tidak akan ada hujan kalau tidak ada petir ataupun awan gelap. Tidak akan kita mengerti, agama islam ini, cahaya iman ini kalau kita tidak belajar. Jadi segala sesuatu yaa harus belajar.

Cobaan itu macam-macam. Bisa dari anak, istri, saudara kita. Kuat nggak kita menghadapinya, sabar nggak kita, ikhlas nggak kita menerimanya. Kita minta lagi kepada Allah, kita kembali lagi pada Allah.

Jadi agama islam itu datang dengan ke ikhlasan. Orang menganut agama itu ikhlas. Tidak setelah kita disunat, kita baca syahadat lalu menjalankannya kita tidak ikhlas. Itu artinya tidak mendalami yang namanya rukun islam, rukun iman. Jadi jangan sampai kita sholat ingin dipuji, ingin dilihat orang, kita berbuat baik ingin dilihat orang, itu sama sekali enggak benar, jadi jangan sampai seperti ini.

Kalau ada hal-hal yang kecil kita selesaikan secara baik-baik. Silaturahmi itu tidak bisa dihitung dengan uang. Memutuskan tali silaturahmi saja Allah murka, Allah tidak suka pada orang-orang yang memutuskan silaturahmi, sama siapapun.

Kita disini semua orang-orang susah, orang yang mengharap berkah, mengharap kesembuhan daripada tingkah laku kita, hati kita, pikiran kita. semuanya….misalnya kamu datang dari jauh ke tempat ini, dari niatnya saja. Allah lebih tahu dari niatmu masing-masing. Pikiran yang nggak baik dibuang. Pelihara pikiran yang baik, hati yang baik. Jangan kita berzikir tapi hati kita memikirkan orang, memikirkan masalah. buang urusan duniawi. itu syetan namanya. Kita sedang berzikir kepada Allah, ataupun sholat sama Allah. Waktunya ibadah ya ibadah, tidak boleh ibadah dicampurkan dengan urusan apapun.

Ya mudah-mudahan hati kita jadi terbuka. Banyak orang diluar sana yang lebih susah. walaupun kita orang susah, tapi mudah-mudahan dengan kita mengenal islam, kita berzikir, orang-orang tidur, kita memohon, malam-malam kita  datang dengan niat yang ikhlas, yang tulus kareana Allah. mudah-mudahan apa yang kita niatkan dikabulkan. Kalau orang  ngomong kejelekan kita, biarkanlah, cukup Allah yang menjadi saksi. jadi kita hidup perlu belajar.

Tidak menjamin orang yang rajin puasa, orang yang rajin sholat ataupun yang lainnya itu masuk surga, yang menjamin  adalah hati. Sholat itu untuk Allah. Allah untuk umatnya yang lurus jalannya. Berarti hati kita yang lurus, pikiran kita yang  lurus, satu cuma pada Allah. Kita berpuasa supaya lurus ,enggak berpuasa kita ngomongin orang, ngomongin yang tidak baik. Jadi mudah-mudahan kita bisa kumpul begini bisa panjang, kalau ada apa-apa diomongin. pakai akal pikiran yang sehat yang adem, pasti ada jalan keluarnya.

Dunia ini semakin enggak karuan, semakin bejat segala moralnya, budi pekertinya, seperti binatang. Mengikuti hawa nafsu syetan, diperbudak sama dirinya sendiri.

Dzikir ini ada manfaatnya buat mempertebal keimanan, keyakinan, keterbukaan hati dan pikiran . Allah maha baik, Allah suka pada orang-orang yang baik. Allah maha benar. Allah suka pada orang-orang yang pikiran dan hatinya benar, artinya mengikuti sifat-sifat Allah. Apa sih hebatnya manusia. kita dikasih panas kepanasan , dikasih dingin kedinginan, lemah sebagai manusia itu . Lihat orang-orang yang sudah meninggal itu, mereka sakit sudah tua , enggak ada apa-apanya, kita hanya merasa kasihan melihatnya. Apalagi kalo kita meninggal membawa dosa, itu nanti didunia ini diganjar pada masa tuanya. kalo Allah sayang sama kita,  kita dicoba nanti, dibersihkan, dikasih penyakit, dikasih musibah, itu semua proses pembersihan.

Jadi disini kita mempunyai yang namanya nilai, jangan sampai kamu capek-capek, kamu berpuasa capek-capek, imanmu hancur dalam sekejap. Keyakinanmu hancur gara-gara perempuan hanya nafsu sesaat. Karena iblispun sudah berikrar ” sampai hari kiamat aku akan menjerumuskan anak cucumu Nabi Adam A.S menjadi temanku dineraka jahanam nanti”. Itu Iblis sudah niat sampai kapanpun, dengan cara apapun dan bagaimanapun.

Kadang kita dapat rezeki dari hasil judi, padahal judi itu haram, tapi orang bersyukur, Allhamdulillah dapat rezeki dari hasil judi. Padahal itu cobaan, kuat nggak kita, dimakan nggak nih barang haramnya, itu jebakan syetan semua.

Agama itu bukan untuk memperkaya diri dengan harta benda duniawi, tapi untuk memperkaya hati, pikiran dan ilmu. Bukan kita punya agama pengen jadi kaya raya.

Kalau dalam keluarga, kita diuji kesabaran kita, kita tawaqal, kita minta dikuatkan entah dari cobaan rezeki dari istri, anak atau dari teman, dunia ini tempatnya cobaan. Tapi banyak juga kesusahan menjadi berkah, menjadi hikmah. Dengan susah orang mau mengenal Allah, dengan susah orang menjadi orang benar, dengan susah orang mengingat  mati, dengan susah orang pengen punya saudara, orang jadi mengerti hidup. Banyak juga orang diluar sana yang punya harta kemewahan, yang punya gedung, punya mobil mewah, tapi enggak punya ilmu, enggak punya hati, enggak punya akhlak seperti binatang. Lebih baik kita susah tapi kita beriman, kita punya Allah daripada kita senang kita tidak punya Allah, tidak punya Tuhan. Sudah kita susah kita tidak punya Allah. Kalau kita ingat Allah berarti Allah ingat kita. Bagaimana Allah ingat kita kalau kita enggak ingat Allah. Jangan karena susah kita ingat Allah, susah dan senang itu semua cobaan. Cobaan itu tidak kita alami sendiri, orang-orang tua kita juga susah. Memelihara kamu dari kecil, menyekolahkan, cari duit pontang-panting, sampai pinjam sana-sini, kerja siang malam , yang penting anaknya jadi orang bener, anaknya sekolah. Kita diharapkan jadi orang yang baik, jadi orang yang rukun sama saudara, disekolahkan untuk kepintaran, disuruh mengaji. Berarti orang tua kita mengharapkan kita jadi orang baik, jadi orang sholeh, orang yang berguna. Sampai orang tua kita meninggal. Saat kita dilahirkan dengan susah payah, entah biayanya dari mana untuk membayar bidan/dokter. Kita sakit dirawat, kita di do’akan saat mereka pada sholat.

Semua orang tua ingin anaknya hidup baik, tidak ada yang ingin anaknya durhaka, jadi anak yang jahat, jadi anak yang mengikuti syetan. Kita minta apa saja diturutin, kita mau makan dicariin, kita enggak pernah berfikir bagaimana susahnya, ngasih makan kita seumur hidup,  sampai mereka meninggal. Keridhoan Allah adalah keridhoan orang tua. Tidak ada orang tua yang mau menjebloskan anaknya ke api neraka kecuali tingkah laku kita sendiri yang dibodohi sama nafsu. Sekarang kita pelan-pelan jadi yang namanya orang tua, punya istri punya anak, pengganti penerus orang tua kita. Sewaktu kita kecil sampai kita menikah kita diajarkan untuk sholat, mengaji, belajar. Setelah kita menikah kita dilepas, kita telah dianggap dewasa, sudah dianggap mampu membina rumah tangga. Jadilah kita orang tua yang perlahan-lahan belajar.

Nanti banyak, diakhirat nanti orang tua tidak ketemu sama kita ataupun sebaliknya kita tidak ketemu sama anak kita. Sama seperti kita,itu bisa terjadi. Bagaimana kita mau membawa sebuah perahu ini ditengah-tengah lautan sampai diujung lautan, nakhodanya kita sendiri. Kita manusia kotor yang masih suka dengki, banyak bohong,banyak janji, munafik.  Coba kita berkaca pada diri kita masing-masing, apakah kita pantas untuk masuk surga? kalua sama diri kita sendiri saja tidak jujur, apalagi sama Allah. Kita termasuk orang-orang yang bodoh, yang masih bodoh. Kita enggak mengerti ilmu, agama itu apa, sholat itu buat siapa. Belajar ikhlas, sabar dan tawakal.

Dahulu orang tua kita mengalami makan pakai terasi, makan pakai singkong. Sekarang kita makan sudah pakai beras. Dahulu tidak ada kendaraan, jaman penjajahan kita jalan kaki kemana-mana. Kalau kita hitung-hitung orang tua kita itu tidak ada putusnya amalnya. Bertahun-tahun kita dipelihara, kita sakit dirawat, beratus kali kita sakit sampai kita sehat lagi seperti sekarang. Itu pahalanya tidak terhingga. Jadi jangan sampai kita diakhir hayat nanti kita menangisi diri kita sendiri, menangisi perbuatan  nafsu kita sendiri. Jangan sampai kita dirajam sama api neraka jahanam yang panasnya lebih dari api didunia,  tujuh kali lipat. Dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan surga. Kita masih dikasih sehat, bisa berzikir, bisa makan enak, bisa tidur di rumah, enggak kepanasan, bisa kumpul sama saudara, bisa tukar pikiran. kalau kita perhatikan berkahnya banyak, cuma kadang manusia itu lupa. Kita dikasih penglihatan yang sempurna, pendengaran yang sempurna, berbicara yang sempurna, berjalan yang sempurna, kita lahir tidak cacat. Allah memberi anugrah itu banyak.

Allah itu ada di dirimu sendiri, perhatikanlah dirimu sendiri, baru engkau menemukan yang namanya Allah. Sadarkanlah dirimu sendiri, sadarkanlah perbuatan dirimu sendiri yang enggak baik. sadarkanlah…ingat, kita eling.

Kalau nanti banyak manusia yang masuk neraka jahanam, nauzubillaminjalik, Boro-boro kita ketemu sama orang tua, diri kita saja tidak tertolong, bagaimana kita mau ketemu dengan orang-orang yang kita sayangi, yang melahirkan kita, yang merawat kita. Saya yakin, sepeninggalan orang tua kita, kita ingin ketemu, mereka itu dimana, rindunya setengah mati, kita ingin ketemu orang-orang tua kita yang sudah mendahului. Karena anak dan orang tua itu ada ikatan batin. Walaupun orang tua kita sudah tidak ada tapi batin mereka dan batin mereka itu menyatu.

Musuhmu yang utama dirimu adalah nafsumu sendiri. Perangilah dirimu sendiri, nafsumu sendiri. Perang yang amat dahsyat adalah nafsumu sendiri. Kalau engkau bisa memerangi nafsumu, engkau bisa menemukan dirimu dan Tuhanmu. Orang yang ahli surga itu orang yang bisa memerangi nafsu dirinya sendiri. Dengan apa nafsu itu dilawan, dengan mengingat Allah, berpuasa, baca Al’Quran dan banyak hal-hal ibadah yang bisa melawan nafsu.

Jangankan kita yang bernyawa, yang tidak bernyawa saja akan hancur apalagi yang bernyawa. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan yang namanya kematian, itu pasti. Dimanapun tinggalnya, dilangit ataupun didasar bumi yang dalam ini akan merasakan apa yang namanya kematian. Kamu tidak bisa lari dari yang namanya malaikat pencabut nyawa. Kamu akan dikejar-kejar sama malaikat itu nanti, diambil haknya, pertanggung jawabannya sama Allah yang maha Menciptanya. Bahwa kamu berikrar dalam sholat ” Innasholati wanusuki wamayahya wamamati lillahirobilalamin” bahwa sholatmu, hidupmu dan matimu untuk Allah. Ikrar itu nanti dipertanggung jawabkan. Kalau bahasanya sudah hidup dan mati berarti segala-galanya, menyeluruh, tidak sedikitpun yang terlewati. Segala kelakuan kita, pikiran kita, semuanya.

Jadi Allah menciptakan bumi dan langit ini, hamparan bersambung……

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: