ANTARA PUTIH DAN HITAM.

Setiap pertemuan antara Fulan dengan Mang Karna, yang dijadikan bahan pembicaraan selalu
dua masalah, yaitu
1 Problema yang dihadapi fulan dalam menjalankan tugas.
2 Problema yang terjadi didalam keluarga.

Fulan selalu membedakan antara PUTIH,  ABU-ABU,  dan HITAM
Putih adalah yang bersih, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.
Abu-abu adalah yang ragu-ragu, antara pendapat dirinya dan petunjuk Al-Qur’an.
Hitam adalah yang gelap, hanya berdasarkan pendapat diri sendiri.

Yang putih sudah jelas, mutlak dilaksanakan. Yang hitam sudah jelas, mutlak ditinggalkan.
Begitulah pola hidup yang benar, yaitu taat pada petunjuk Al-Qur’an dan meninggalkan kebiasaan
menggunakan pola “semau gue”, “sekehendak hatiku”, “menurut hati nuraniku”
Fulan memiliki disiplin yang kuat, tetap berpedoman pada pola putih dalam situasi apapun.

MASALAH KELUARGA
fulan mengambil suatu kesimpulan bahwa adik-adiknya banyak mengalami kesulitan didalam
meng-implementasi-kan ilmu agama. Artinya sulit menerapkan ilmu agama dalam penghidupan
sehari-hari. Ibadah dilaksanakan, tapi akhlak Islami ditinggalkan, misalkan:

1    Sudah jelas-jelas bahwa bila dua bersaudara tidak bertegur sapa, maka ibadah dan

amalnya tidak diterima. Toh masih juga diteruskan saling tidak bertegur sapa.

2    Semua sudah diberikan penjelasan mengenai tali persaudaraan, kuncinya adalah:
“Yang sudah lalu, berlalulah” artinya jangan lagi membuka kesalahan yang kemarin.
Toh masih saja saling membuka kesalahan yang sudah berabad-abad.

Berarti adik-adiknya masih menggunakan pola HITAM, mengikuti pendapat dirinya sendiri.
Sedangkan Fulan sudah meninggalkan jauh-jauh pola hitam ini, sejak lulus dari SMA.
Fulan tetap disiplin menggunakan pola putih, untuk menghindari hukuman dari Allah.

Tempo dulu Fulan dan Si A sama-sama test Akabri. Fulan mengikuti pola putih, bersikap sabar,
dan mendirikan sholat. Si A lagi, mengikuti kehendak dirinya, berhasil menjadi pengusaha.
lalu punya istri, anak, rumah, mobil, motor, kantor, dll. Tapi pola hidupnya tetap tidak berubah,
jauh dari agama. Kehidupan berjalan terus, sekian tahun kemudian rumahnya lenyap bayar hutang,
mobil dan motor ikut lenyap, istri dan anak ikut pergi. Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya.

Kini pekerjaannya hanya penjual bakso, suka ikut cuci piring, tapi hatinya tenang tenteram, karena
sudah merubah pola hidupnya, dari hitam menjadi putih. Tiap hari menggali ilmu agama dan zikir.
Keluar ucapan Si A “Saya lebih bahagia sekarang, daripada dulu sewaktu harta banyak”
Si A itu berpendidikan tinggi, bertitel SH, toh tidak akan bisa menghindari hukum sunnatullah.
Si A sudah membuktikan sendiri bahwa harta itu bukan jaminan kebahagiaan. Bahwasanya
bila Allah berkehendak, dalam sesaat harta itu bisa ditarik kembali, karena milik Allah.

Katakanlah, Si Dewa saat ini memiliki rumah, tanah, mobil, apakah bisa dijamin tidak akan lenyap?
Sekian puluh tahun kemudian, semua harta Dewa bisa saja lenyap, bila Dewa dan Dewi tidak
bisa meninggalkan pola hitam, tidak mau beralih ke pola putih,  Untuk merubah pola hidupnya,
apakah harus menunggu hartanya habis, baru kemudian bertobat?   Ilmu teori sudah disampaikan,
ilmu praktek sudah dilihat sendiri buktinya, kini tinggal anak-anak dipersilahkan berpikir.

penulis : mang Karna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: