MENDIDIK ANAK SHOLEH.

Suatu saat sang anak berbuat salah, bikin kesal si Ibu, saking kesalnya si anak dimarahi habis-habisan, dipukul, diusir keluar dari rumah. Bebarapa jam kemudian, ibunya sadar, timbul penyesalan. Kok bisa begitu? Pada saat si ibu marah-marah, imannya keluar dari hati si ibu, lalu diisi syetan. Pada saat timbul penyesalan, imannya kembali masuk dan si syetan pergi, takut pada iman.

Si ibu menyangka, dengan memukul dan memarahi si anak, sudah mengikuti petunjuk yang benar, padahal itu petunjuk dari syetan, maka hasil akhirnya adalah penyesalan didalam hati. Menghadapi kenakalan anak seperti ini bukan dengan kekerasan phisik, tapi dengan cara menggugah hatinya agar meninggalkan perbuatan tercela, lalu diganti dengan perbuatan terpuji. Tugas orang tua adalah menghapus sifat nakal dalam diri anak, kemudian diganti sifat sholeh.

TAKHALLI : mengosongkan hati dari sifat tercela.

TAHALLI  : mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji.

Contoh :

Si ibu melihat sang kakak menyakiti adiknya, sehingga si adik jadi menangis keras. Maka naik pitamlah si ibu. Si ibu mau marah-marah, tapi imannya melarang : “ jangan marahin anak”. Si ibu jadi batal memarahi sang kakak, diganti dengan kata-kata bijak sang ibu : “ Kamu jangan begitu dong sama adikmu sendiri, kamu juga tidak mau ‘kan disakitin kakamu?”. Kamu sayang nggak sama adikmu? Kalau sayang, coba bujuk adikmu supaya berhenti menangis”. Si ibu bisa merubah sifat tercela dalam diri sang kakak. Lalu diganti dengan sifat terpuji. Semula si kakak menyakiti adiknya, lalu digugah hatinya, menjadi menyayangi adiknya.

Kenapa Sang ibu tidak berani memarahi anaknya?, alasannya hanya satu, takut dihukum Allah. Hal ini ada di buku berjudul “ Petunjuk Jalan Lurus “ hal. 468,

Agar semua dapat direnungkan.

Jadi, dalam hal mendidik anak, gunakanlah petunjuk Allah, yaitu dengan cara kasih sayang. Jangan menggunakan kekerasan: memukul, memaki, memarahi, itu mah tidak di ridhoi Allah. Bila mendadak timbul emosi amarah. Ingat selalu petunjuk Allah : “ Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu…”. (QS. Al-Baqarah 45)

Bila si ibu bisa bersabar,….dikit, dikit aja dulu. Lama-lama juga akan terbiasa. Nikmatnya nanti. Alangkah bahagianya ibu bila kelak anak sudah di SMU, pulang sekolah mengucapkan salam, lalu mencium tangan orang tua. Sebelum makan siang, sholat dzuhur. Dimalam hari terdengar suara anak membaca Al Qur’an. Sebelum tidur, membaca do’a untuk orang tua. Maka dalam hati ada bisikan: ” Tidakah sia-sia aku bersabar mendidik anak”.

Si ibu mendidik anak menjadi sholeh, paling lama hanya sekitar 20 tahun. Tapi nikmatnya, bisa ribuan tahun, bisa kekal nikmatnya. Inilah yang perlu tertanam dalam benak Ibu.

penulis : Mang karna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: